Friday, March 06, 2009

...Raja vs Dewa

…jargon pemasaran yang selama ini kita pelajari adalah: ’Konsumen adalah Raja’...sehingga segala aktivitas perusahaan/organisasi...diarahkan kepada ’pemuasan kebutuhan konsumen’ atau bahkan...it’s not enough if you just satisfy your customers, you have to delight your customers...tapi, apakah jargon itu saat ini masih relevan ..??? rasanya perlu ada perenungan lagi...!!! Aku sebagai konsumen, beberapa kali mengalami interaksi dg produsen yang sudah sangat jauh dari jargon itu....yang aku rasakan adalah...(memang) konsumen itu ’raja’, tapi produsen itu ’dewa’ ...jadi ya walaupun raja, begitu berhadapan dg dewa...aku nggak bisa apa-apa...apalagi kalau berkaitan dg layanan publik...

6 comments:

Erik93931 said...

Semestinya pelanggan bukan dianggap raja, dan produsen dianggap dewa.

Menurut saya lebih baik hubungan keduanya adalah sebagai mitra, saling membutuhkan, sama sama terpenuhi hajatnya

Jenny Oetomo said...

Konsumen adalah "raja" hal tersebut biasanya khusus bagi produk yang kompetisinya sangat ketat tetapi untuk produk atau layanan yang masih longgar bahkan masih monopoli masih jauh jargon tersebut dan saya setuju yang bapak posting tersebut bahkan konsumen banyak dirugikan yang produk yang membahayakan kesehatan akhir akhir ini, salam

RJ said...

Betul..utk layanan publik biasanya kita tidak bisa jadi raja,karena mereka jadi "Mbah-e" raja sih...

goresan pena said...

huahahahahhahah...selalu tertawa deh baca sindirannya pak djoko...bener juga yah,... dewa kok dilawan...
sama pak, saya juga sering begitu...

Anonymous said...

yg pasti siy 'dewa' gitar saya mah Yngwie Malmsteen...

Anonymous said...

Berinteraksi ke Allah aja pak....dewa kan dibawahnya Allah,percaya deh kalo ama Allah
Kalo dewa kan ada dewa angin,dewa hujan,dewa matahari,dewa 19,kemampuannya cuma satu-satu,kalo Allah kan bisa semuanya,minta ke yang di atas aja,Dia pasti selalu ngasih ke bawah